OPINI Lingkungan Rusak, Mental Ikut Sesak

 OPINI Lingkungan Rusak, Mental Ikut Sesak


Oleh : Rahma Anitian

Mahasiswi Psikologi Islam UIN Raden Intan Lampung


Beberapa waktu lalu saya sempat duduk di pinggir jalan sekitar sore hari. Kendaraan lewat tanpa henti, udara terasa panas walaupun matahari mulai turun, dan di sudut jalan terlihat tumpukan sampah yang belum diangkut. Anehnya, semua orang terlihat biasa saja. Tidak ada yang benar-benar peduli. Orang tetap lewat, tetap sibuk dengan urusannya masing-masing, seolah keadaan seperti itu memang sudah sewajarnya terjadi.


Mungkin itu masalah terbesar kita hari ini: terlalu sering melihat lingkungan rusak sampai akhirnya terbiasa.


Isu lingkungan memang semakin sering dibahas, baik di berita maupun media sosial. Hampir setiap minggu ada saja kabar tentang banjir, cuaca ekstrem, polusi udara, sungai tercemar, atau suhu panas yang terasa makin menyengat. Tetapi kebanyakan pembahasan hanya berhenti pada kerusakan alam secara fisik. Padahal, ada dampak lain yang diam-diam ikut tumbuh dan jarang disadari, yaitu dampak terhadap kondisi psikologis manusia.


Lingkungan ternyata punya pengaruh besar terhadap cara manusia berpikir, merasa, bahkan bersikap. Tinggal di tempat yang bersih, rindang, dan tidak terlalu bising biasanya membuat seseorang lebih tenang. Sebaliknya, hidup di lingkungan yang padat, sempit, panas, penuh polusi, dan minim ruang hijau sering membuat orang lebih mudah lelah secara emosional.


Hal ini bukan sekadar perasaan semata. World Health Organization pernah menjelaskan bahwa kualitas lingkungan, termasuk polusi udara, memiliki kaitan dengan kesehatan fisik dan mental manusia. Di beberapa penelitian lain juga disebutkan bahwa keberadaan ruang hijau dapat membantu menurunkan tingkat stres dan memperbaiki suasana hati. Artinya, kondisi lingkungan memang memengaruhi manusia lebih dalam daripada yang sering kita bayangkan.


Namun lihat keadaan sekarang. Di banyak kota, pohon semakin sedikit. Ruang terbuka hijau perlahan hilang karena pembangunan. Sungai berubah warna dan dipenuhi sampah rumah tangga. Bahkan udara segar sekarang terasa seperti sesuatu yang mewah.


Yang lebih mengkhawatirkan, manusia mulai kehilangan hubungan emosional dengan alam. Anak-anak lebih sering mengenal dunia lewat layar gadget dibanding bermain di tanah lapang. Banyak orang bangun pagi langsung melihat telepon genggam, tetapi hampir tidak pernah benar-benar memperhatikan keadaan lingkungan di sekitar rumahnya sendiri.


Saya rasa inilah alasan mengapa banyak orang sekarang mudah merasa penat. Hidup terasa cepat, sesak, dan melelahkan. Kita terus dikejar suara kendaraan, notifikasi media sosial, pekerjaan, serta tekanan hidup lainnya tanpa punya cukup ruang untuk benar-benar beristirahat secara mental.


Kadang manusia memang tidak sadar bahwa dirinya lelah karena lingkungan tempat ia hidup juga ikut melelahkan.


Ada hal menarik yang sering saya perhatikan di media sosial. Banyak orang senang mengunggah foto di tempat-tempat bernuansa alam. Kafe dengan banyak tanaman, pantai, gunung, atau tempat yang sejuk hampir selalu menarik perhatian. Mungkin tanpa sadar, manusia memang sedang mencari rasa tenang yang mulai hilang dari kehidupan sehari-harinya.


Ironisnya, setelah pulang dari tempat-tempat itu, kebiasaan lama sering kembali dilakukan. Masih membuang sampah sembarangan, memakai plastik sekali pakai berlebihan, atau menganggap masalah lingkungan sebagai urusan pemerintah semata. Kesadaran lingkungan akhirnya berhenti sebagai estetika, bukan menjadi kebiasaan hidup.


Di sisi lain, generasi muda sekarang juga menghadapi kecemasan baru tentang masa depan bumi. Mereka tumbuh dengan berita tentang perubahan iklim, banjir besar, hutan terbakar, dan suhu bumi yang terus meningkat. Banyak yang mulai merasa takut terhadap masa depan lingkungan, meskipun rasa takut itu sering dianggap berlebihan oleh orang-orang yang lebih tua.


Padahal rasa cemas itu nyata. Sulit merasa tenang ketika hampir setiap hari melihat kabar tentang kerusakan lingkungan terus terjadi tanpa perubahan berarti.


Menurut saya, masalah lingkungan hari ini sebenarnya bukan hanya soal kurangnya aturan atau minimnya teknologi. Persoalan utamanya ada pada cara manusia memandang alam. Kita terlalu lama menganggap alam hanya sebagai sesuatu yang bisa dipakai terus-menerus tanpa batas.


Manusia lupa bahwa ketika lingkungan rusak, dampaknya akan kembali ke manusia juga. Bukan cuma dalam bentuk banjir atau udara panas, tetapi juga dalam bentuk stres, rasa tidak nyaman, dan kualitas hidup yang menurun perlahan-lahan.


Karena itu, menjaga lingkungan seharusnya tidak lagi dipandang sebagai tren atau sekadar topik saat bencana datang. Kepedulian terhadap lingkungan perlu menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Tidak harus dimulai dari hal besar. Kadang perubahan kecil justru lebih realistis untuk dilakukan secara konsisten.


Membuang sampah pada tempatnya mungkin terdengar sederhana, tetapi kebiasaan kecil seperti itu menunjukkan bahwa seseorang masih punya rasa peduli terhadap ruang hidup bersama. Mengurangi penggunaan plastik, menanam pohon, atau menjaga kebersihan sekitar rumah juga terlihat sepele, tetapi dampaknya jauh lebih besar jika dilakukan banyak orang.


Lingkungan yang sehat bukan hanya membuat kota terlihat indah. Lingkungan yang baik juga membantu manusia merasa lebih nyaman menjalani hidupnya. Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan tempat tinggal untuk hidup, tetapi juga membutuhkan lingkungan yang mampu membuat pikirannya tetap tenang.


Mungkin itu sebabnya ketika lingkungan rusak, yang terasa sesak bukan hanya bumi, tetapi juga manusia yang hidup di dalamnya. ***

Bupati Tanggamus Buka BOTA-CAMPOTA Di Pantai Cukuh Batu : Promosi Daerah Tembus Mancanegara

 



TANGGAMUS, (GM) -- Bupati Tanggamus Moh. Saleh Asnawi membuka kegiatan Beaches On The Air (BOTA) dan Camping On The Air (CAMPOTA) di Pantai Cukuh Batu, Kota Agung, Kegiatan komunitas radio amatir ini dinilai mampu menjadi sarana promosi wisata hingga ke tingkat internasional Sabtu, (2/4/2026).


Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan apresiasi kepada panitia dan komunitas yang telah menginisiasi kegiatan tersebut. Ia juga menyambut peserta dari berbagai daerah yang hadir di Tanggamus.


“Atas nama Pemerintah Kabupaten Tanggamus, saya mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta. Terima kasih telah menjadikan Tanggamus sebagai lokasi kegiatan,” kata Saleh Asnawi.


Menurutnya, Tanggamus memiliki potensi alam yang lengkap, mulai dari garis pantai Teluk Semaka sepanjang 202 kilometer hingga kawasan pegunungan dan perbukitan.



“Kegiatan seperti ini penting, bukan hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga menjadi media promosi daerah,” ujarnya.


Ia menjelaskan, BOTA merupakan aktivitas komunikasi radio yang dilakukan dari kawasan pantai, sementara CAMPOTA dilakukan dengan konsep berkemah di alam terbuka. Kegiatan ini, kata dia, menjadi wadah mempererat solidaritas sekaligus membangun kolaborasi antaranggota komunitas.


Bupati juga mengingatkan peserta untuk menjaga kebersihan lingkungan serta melestarikan budaya lokal selama kegiatan berlangsung.


Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Tanggamus Suhartono, Kepala Dinas Pariwisata, Kepala Dinas Perhubungan, Camat Kota Agung, serta Lurah Pasar Madang dan Baros.


Sementara itu, Ketua ORARI Lokal Tanggamus Heridwan Ghozali mengatakan kegiatan ini diikuti peserta dari sejumlah daerah seperti Lampung, Palembang, Bogor, dan Banten.


Ia menyebut, melalui komunikasi radio, kegiatan ini berpotensi mengenalkan Tanggamus hingga ke luar negeri.


“Kalau propagasi bagus, komunikasi bisa sampai ke luar negeri seperti Amerika, Brasil, Inggris, bahkan Rusia. Dari situ mereka bisa tahu Tanggamus,” kata Heridwan.


Menurutnya, kegiatan BOTA-CAMPOTA di Tanggamus merupakan salah satu yang terbesar sejauh ini dan mendapat dukungan dari pemerintah daerah.


Ke depan, pihaknya juga berencana mengembangkan kegiatan serupa di kawasan pegunungan melalui konsep Summits On The Air (SOTA) di wilayah Gisting dan Ulubelu.


Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini ditutup pada Minggu, 3 April 2026, pukul 10.00 WIB.

Dorong Pengelolaan Informasi Mandiri Kreatif : Diskominfo Lambar Sosialisasi KIM Ke Kecamatan Dan Puskesmas

 


DISKOMINFO LAMPUNG BARAT, (GM) -- Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Lampung Barat menggelar sosialisasi penguatan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) di Kecamatan dan Puskesmas, Kamis (30/4).


Sosialisasi diikuti perwakilan staf kecamatan dan puskesmas. Kepala Dinas Kominfo Lampung Barat Burlianto Eka Putra, melalui Kepala Bidang Komunikasi Informasi Publik (KIP) Ansori, mengatakan kegiatan ini bertujuan mendorong puskesmas dan kecamatan membentuk dan mengaktifkan KIM.


"Tujuannya untuk memperkuat komunikasi antara pemerintah dan masyarakat, serta memberdayakan masyarakat dalam mengelola informasi," ujar Ansori.


Menurut Ansori, KIM berperan penting dalam menjembatani aliran informasi dari pemerintah ke masyarakat dan sebaliknya.



"Saat ini kita berencana akan membentuk KIM tingkat kecamatan melalui kecamatan dan puskesmas karena keduanya paling dekat dengan masyarakat. Makanya kita dorong bentuk KIM," katanya.


Ke depan, pembentukan KIM akan dilanjutkan hingga tingkat pekon. "Nantinya KIM akan meliputi unsur kecamatan, puskesmas, dan masyarakat. Tugasnya mewujudkan masyarakat yang aktif, peduli, peka, dan memahami informasi," jelas Ansori.


Melalui metode diskusi antar anggota, KIM diharapkan mampu memilah dan memilih informasi yang dibutuhkan untuk kepentingan pribadi, kelompok, masyarakat, dan bangsa.


Ansori menambahkan, KIM memiliki peran strategis dalam penyebaran informasi, baik dari pemerintah ke masyarakat maupun antarmasyarakat, termasuk membahas isu yang sedang berkembang.


"Target tahun ini setiap kecamatan terbentuk KIM. Kita akan dampingi pembentukannya, termasuk pelatihan pembuatan konten," paparnya.


Sementara Camat Belalau, Hidayatullah, menyatakan pihaknya siap mendukung penuh pembentukan KIM di wilayahnya.


"Kami di kecamatan siap fasilitasi pembentukan KIM. Ini penting agar informasi pembangunan dan layanan ke masyarakat tidak tersumbat," tegasnya.


Ia berharap keberadaan KIM dapat menekan penyebaran berita hoaks. "Semoga dengan adanya KIM, berita hoaks bisa kita tekan sehingga masyarakat tidak mendapat informasi yang salah," pungkasnya.

Tanpa Data : Semua Jadi Sia-sia Wabup Agus Suranto Pimpin Komitmen EPSS 2026 Di Tanggamus

 


TANGGAMUS, (GM) -- Wakil Bupati Tanggamus, Agus Suranto, memimpin langsung penandatanganan Komitmen Bersama Evaluasi Penyelenggaraan Statistik Sektoral (EPSS) Tahun 2026 di Aula Kantor Kecamatan Talang Padang Rabu, (29/4/2026).


Momen ini bukan sekadar seremoni. Bersamaan dengan itu, juga dicanangkan Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) 2026 sebagai langkah konkret memperkuat budaya data hingga ke tingkat pekon.


Kegiatan yang digelar secara hybrid sejak pukul 08.30 WIB ini turut dihadiri Kepala BPS Tanggamus Niken Hariyanti, Kepala Dinas Kominfo Suhartono, Kepala Bapperida Doni Sengaji Berisang, serta Kepala Dinas PMD Arpin.


Dalam tata kelola data daerah, Dinas Kominfo berperan sebagai wali data, sementara Bapperida sebagai koordinator data, memastikan seluruh proses pengelolaan data berjalan terarah, terintegrasi, dan sesuai prinsip Satu Data Indonesia.


Program Gagal Bukan Karena Anggaran, Tapi Data


Dalam sambutannya, Wabup Agus Suranto menegaskan persoalan klasik pembangunan bukan terletak pada minimnya anggaran, melainkan kualitas data.



“Banyak program pemerintah gagal tepat sasaran, bukan karena kekurangan anggaran, tetapi karena data yang digunakan tidak akurat, tidak mutakhir, dan tidak terintegrasi,” tegasnya.


Ia juga mengingatkan bahwa pekon tidak boleh lagi hanya menjadi objek pendataan.


“Pekon hari ini tidak bisa lagi hanya menjadi objek pendataan, tetapi harus menjadi subjek yang mampu mengelola datanya sendiri,” lanjutnya.


Lebih jauh, Agus menyoroti pentingnya kolaborasi lintas OPD.


“Saya berharap seluruh perangkat daerah tidak lagi bekerja sendiri-sendiri dalam pengelolaan data. Ego sektoral harus dikurangi. Data harus menjadi bahasa bersama dalam pengambilan kebijakan,” harapnya.


5 Komitmen Kunci: Dari Data Akurat hingga Satu Data Indonesia


Penandatanganan Komitmen Bersama EPSS 2026 memuat lima poin utama:


Meningkatkan kualitas statistik sektoral secara berkelanjutan


Memperkuat tata kelola data yang akurat dan terpadu


Mendorong kolaborasi antar perangkat daerah


Mendukung pelaksanaan EPSS 2026 secara optimal


Mewujudkan Satu Data Indonesia di Tanggamus



Komitmen ini menjadi fondasi dalam setiap proses perencanaan hingga evaluasi pembangunan berbasis data.


Kepala BPS: Desa Cantik Bukan Sekadar Seremonial


Kepala BPS Tanggamus, Niken Hariyanti, menegaskan bahwa program Desa Cantik adalah transformasi nyata, bukan kegiatan simbolis.


“Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, tetapi langkah nyata untuk membangun budaya statistik yang baik hingga ke tingkat pekon,” ujarnya.


Ia juga mengingatkan bahwa kesalahan data akan berdampak langsung pada arah kebijakan.


“Ketika data tidak akurat atau tidak terkelola dengan baik, maka risiko kesalahan sasaran program pembangunan menjadi semakin besar,” jelasnya.


Sejak 2022, program Desa Cantik telah berjalan di Tanggamus, dan pada 2026 kembali ditetapkan tiga pekon sebagai lokus pembinaan.


2 OPD Jadi Fokus, 3 Pekon Siap Dibina


Dalam pelaksanaan EPSS 2026, dua OPD ditetapkan sebagai lokus pembinaan, yakni:


Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura


Dinas Kesehatan



Sementara itu, tiga pekon dipilih untuk program Desa Cantik sebagai penguatan statistik di level desa.

Bupati Lampung Barat Melouncing Kekuhan Sebagai Alat Komunikasi Dan Kewaspadaan Dini Terhadap Bencana


 

Sempat Mangkir Dari Persidangan : Mantan Gubernur Lampung Arinal Djunaidi Ditetapkan Tersangka Korupsi Dana PI 10% PT LEB



Screenshot_20260429_004626_Gallery


BANDAR LAMPUNG, (GM) -- Kejaksaan Tinggi Lampung resmi menetapkan mantan Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi, sebagai tersangka dalam perkara dugaan korupsi pengelolaan dana Participating Interest (PI) 10 persen pada PT Lampung Energy Berjaya.

Penetapan tersebut dilakukan pada Selasa malam (28/4/2026), disertai dengan penahanan selama 20 hari ke depan.


Langkah ini menjadi sorotan publik karena Arinal tercatat sebagai mantan gubernur pertama di Lampung yang langsung ditahan setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi.


Berdasarkan hasil audit BPKP Lampung, kasus ini menimbulkan kerugian keuangan negara sebesar Rp268.760.385.500. Dana tersebut merupakan bagian dari PI 10 persen yang seharusnya menjadi hak daerah untuk mendukung pembangunan.


Selain itu, penyidik juga telah menyita sejumlah aset milik tersangka dengan nilai total mencapai Rp38,5 miliar. Barang bukti tersebut kini diamankan di gudang penyimpanan milik Kejaksaan Negeri Bandar Lampung.


Nama Arinal sebelumnya telah muncul dalam proses persidangan perkara korupsi yang melibatkan sejumlah pejabat perusahaan daerah. Kasus tersebut tengah disidangkan di Pengadilan Tipikor pada PN Tanjung Karang.


Dalam dakwaan jaksa, Arinal disebut memiliki peran dalam kapasitasnya sebagai gubernur sekaligus pemegang saham pada dua badan usaha milik daerah, yakni PT Lampung Jasa Utama dan PT Lampung Energy Berjaya.


Ia diduga terlibat bersama sejumlah pihak, di antaranya: Heri Wardoyo (Komisaris PT LEB), M. Hermawan Eriadi (Direktur Utama PT LEB), dan Budi Kurniawan (Direktur Operasional PT LEB)


Pihak Kejati Lampung menegaskan bahwa proses penyidikan akan terus dikembangkan untuk mengungkap kemungkinan keterlibatan pihak lain. Penegakan hukum dilakukan secara profesional dan terbuka, tanpa pandang jabatan.


Kasus ini menjadi perhatian luas masyarakat, khususnya di Lampung, yang menantikan perkembangan lebih lanjut serta langkah hukum berikutnya dari aparat penegak hukum.(Reded )

Penyuluhan Hukum Di Bandar Lampung, Kepala Sekolah Didorong Pahami Aspek Yuridis




BANDAR LAMPUNG, (GM) -- Kegiatan penyuluhan hukum bertajuk Penguatan Profesionalisme dan Pemahaman Hukum dalam Manajemen Sekolah digelar di Soeltan Luxe Hotel Bandarlampung, Selasa (28/04/2026).


Kegiatan ini diikuti kepala sekolah dan wakil kepala sekolah bidang humas dari SMA di Lampung Selatan, Lampung Timur, dan Bandar Lampung, serta dari unsur Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS).


Ketua MKKS SMA Provinsi Lampung, Drs. H. Soeharto, M.Pd., dalam sambutannya menegaskan pentingnya peningkatan profesionalisme serta pemahaman hukum di lingkungan sekolah.



“Kegiatan ini untuk menunjang profesionalisme kepala sekolah dan wakil kepala sekolah, khususnya dalam memahami aspek yuridis yang kerap belum dipahami secara menyeluruh dalam pelaksanaan tugas,” ujarnya.


Ia menambahkan, kurangnya pemahaman hukum berpotensi menimbulkan persoalan, bahkan dapat memicu proses hukum yang merugikan institusi pendidikan.


Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia (AWPI), Hengki Ahmat Jazuli, menekankan bahwa tugas jurnalistik harus berpedoman pada Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 dan kode etik jurnalistik.


Menurutnya, pihak sekolah juga perlu memahami mekanisme pemberian informasi kepada media agar tidak terjadi kesalahpahaman.


“Sekolah harus tegas dalam menerapkan aturan saat memberikan informasi maupun wawancara kepada wartawan, dengan mengacu pada standar Dewan Pers,” jelasnya.


Ia juga mengingatkan, apabila terdapat oknum yang mengaku sebagai wartawan namun tidak menjalankan tugas sesuai aturan jurnalistik, pihak sekolah dapat melaporkannya ke Dewan Pers atau aparat penegak hukum.


Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas kepala sekolah dan jajaran humas dalam menjalankan tugas secara profesional, transparan, serta sesuai koridor hukum yang berlaku. (Red)